TOP-LEFT ADS

Mengenal Sosok Budi Prakoso

Jakarta, Aktual.com - HY Budi Prakoso, lahir pada 8 Mei 1952 adalah salah seorang putra bangsa yang merupakan sosok pekerja keras dan ulet, pribadi yang dikenal santun dan dermawan. Dia juga adalah sosok manusia yang pantang menyerah dan berjiwa petualang.Pada tahun 1971, di saat usianya masih 19 tahun dia bersama kakak sulungnya (Setiawan Djody) mendirikan perusahaan keluarga (PT Multi Setdco) yang bergerak di bidang properti. Ini adalah tahun pertamanya berkarir di bisnis proyek pembangunan. Di tahun tersebut dia berhasil melakukan pembebasan lahan di Wonosobo, Ubud Bali, Jagorawi. Dia juga berhasil melakukan pembangunan properti di Jakarta Pusat. Pada tahun 1979 bersama perusahaan tersebut, dia menjadi salah satu kontraktor pembangunan RSAB Harapan Kita. Diapun kemudian mendapatkan penghargaan dari Ibu Negara (Tien Soeharto) yang merupakan Ketua Yayasan RSAB Harapan Kita. Selain itu di tahun tersebut dia juga berhasil melakukan pembangunan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kwartir Nasional Pramuka di Cibubur. Pidato tahun 1984 umur 32 tahun dalam rangka pemutaran film Gandi di hadiri beberapa tokoh dan Ibu Negara Tien SoehartoPidato tahun 1984 saat umur 32 tahun, dalam rangka pemutaran film Gandi dihadiri beberapa tokoh dan Ibu Negara Tien Soeharto[/caption] Di tahun 1983 saat usianya masih relatif belia (31 tahun) dia sudah tampil sebagai Ketua Asosiasi Importir Film Eropa Amerika (AIFEA) dengan kuota 100 judul film setiap tahun. Dalam waktu singkat diapun menguasai dunia perfilman import di Indonesia. Ini menjadi awal lahirnya grup 21 (Twenty One Group). Setahun kemudian tepatnya di tahun 1984 diapun menjadi Produser Film Nasional dengan judul "Doea Tanda Mata" bergenre drama politik, yang sangat kental dengan aroma perjuangan melawan penjajahan Hindia Belanda. Dengan dibintangi Alex Komang, Jenny Rachman dan disutradarai oleh Teguh Karya. Piala Penghargaan sebagai Produser film Doea Tanda Mata yang menang di Festival Film Asia Pacific Tahun 1984 sebagai film terbaik (Best Picture) Piala Penghargaan sebagai Produser film Doea Tanda Mata yang menang di Festival Film Asia Pacific Tahun 1984 sebagai film terbaik (Best Picture)[/caption] Film ini kemudian mendapat award Best Picture dlm Festival Film Asia Pacific 1984. Selain itu juga film ini memborong 12 domonasi di FFI 1985. Bagi Budi Prakoso yang saat itu masih relatif muda (32 tahun), ini adalah pengalaman hidup yang tidak pernah terlupakan. Saat itu dia hendak menyerahkan dana kepada ibu negara, namun berbuntut panjang karena mendapat tegoran dari Satgas Intel Kopkamtip. Dunia perfilman yang membawa sukses besar ini harus dia tinggalkan karena adanya konflik dengan keluarga penguasa pada zaman orde baru. Budi Prakoso saat usia 32 tahun mendapatkan penghargaan dari Ibu Negara Tien SoehartoBudi Prakoso saat usia 32 tahun di hadapan Ibu Negara Tien SoehartoBudi Prakoso bersama AM Hendro Priyono yang saat itu masih menjabat Pangdam JayaBudi Prakoso bersama AM Hendro Priyono yang saat itu masih menjabat Pangdam Jaya[/caption] Budi Prakoso juga dikenal sebagai tokoh pemburu harta karun yang ada di wilayah perairan laut Indonesia. Dia orang yang pertama kali memulai kegiatan dan membidani pekerjaan mencari Benda berharga asal Muatan Kapal Tenggelam (BMKT). Pada tahun 1989 atas izin dari Presiden Soeharto, dia dipercaya oleh KASAL, Laksamana Arifin untuk menggunakan Kapal Perang Penyapu Ranjau termodern milik TNI AL dengan Komandan Kapal Letkol Freddy Numberi dalam kegiatan di Laut Cina Selatan/Selat Karimata mencari BMKT dari Bangkai Kapal Dagang Amerika "Ontario" yang tenggelam tahun 1769. Keberhasilan itu membuatnya pada tahun 2001 melakukan pekerjaan pengangkatan BMKT di Karang Cina Selat Karimata dari Kapal Cina yang bermuatan +/- 40.000 keramik Dinasti Song-Yuan. Pada 2004 dia juga dipercayai melakukan pengangkatan BMKT di Cirebon, dari kapal Cina Artefacts dari Five Dinasty (tahun 907-959). Di bawah kontrol Freddy Numberi yang saat itu menjabat sebagai Menteri KP mempertemukan dengan perusahaan asal Belgia. Pada 2009 dia bersama Prof. Dali Colls merencanakan mega proyek bersama tokoh dunia BMKT Frank Godio, untuk pengangkatan BMKT kapal terbesar yang ditemukan di Perairan Blanakan Karawang. Ini adalah kapal dengan BMKT terbesar di dunia. Menjadi wakil pemerintah Indonesia dalam rangka rekonsiliasi dengan tokoh-tokoh terkemuka di Timor Timur.Menjadi wakil pemerintah Indonesia dalam rangka rekonsiliasi dengan tokoh-tokoh terkemuka di Timor Timur.[/caption] Kiprah Budi Prakoso dalam kancah internasional juga tak kalah pentingnya. Pada tahun 1994 dia pernah (sekarang negara Timor Leste), merencanakan pembangunan pabrik semen terbesar di Bacau Timor Leste. Saat ulang tahunnya ke-50, pada tahun 2002 dia menerima undangan makan malam dari Presiden AS, George W Bush untuk menerima Platinum Member Status dari Republican Presidential Task Force USA. Sertfikat Penghargaan yang diberikan Presiden AS, George W Bush kepada Budi Prakoso tahun 2002Sertfikat Penghargaan yang diberikan Presiden AS, George W Bush kepada Budi Prakoso[/caption] Kini destinasi terahir dalam hidupnya untuk negara Indonesia ini, dia mempunyai gagasan ingin mengembangkan Power Plant berbahan baku Thorium (PLTN yang tidak ada sampah uraniumnya) sebagai sumber Energi di negara ini. Riset ini sudah dia mulai sejak 2011 bekerjasama dengan BUMN PT Industri Nuklir Indonesia - INUKI (Persero). Pada 2016 konsep ini sudah dipresentasikan kepada Presiden Jokowi, dan telah disetujui untuk dibangun di Bangka Belitung. Budi Prakoso bersama Delegasi PT INUKI (Paersero) dalam kunjungan pertamanya ke AS, mensponsori penandatanganan MoU kerjasama pembangunan Power Plant berbahan baku ThoriumBudi Prakoso bersama Delegasi PT INUKI (Paersero) dalam kunjungan pertamanya ke AS, mensponsori penandatanganan MoU kerjasama pembangunan Power Plant berbahan baku ThoriumBersama Ibu Noto Alm (Ibunda Jokowi) waktu rawuh ke Sawangan untuk nyuwun pangestu, bersama Setiawan Djody (kaka tertua), dan Hadi Purnomo (Mantan Ketua BPK RI/ saudara ipar)Bersama Ibu Hj. Sudjiatmi Notomihardjo (Almarhumah) yakni Ibunda dari Presiden Jokowi, didampingi Setiawan Djody (kaka tertua), dan Hadi Purnomo (Mantan Ketua BPK RI/ saudara ipar). Budi Prakoso sangat mengagumi sosok seorang Ibu. Dia bangga sekali dapat kunjugan Almarhumah di makam Sawangan di kediaman Budi Prakoso tinggal. Almarhumah sebagai sosok ibu yang luar biasa, diyakini akan membawa berkah dan restunya.[/caption] Selain itu di umurnya yang memasuki usia senja, pada 2017 dia memiliki gagasan yang sangat kontroversial ingin membangun Replika Ka'bah sebagai simbol kebesaran atau mercusuar agar dunia bisa melihat lebih jauh lagi bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Pembangunan Replika Ka'bah ini bekerjasama dengan Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang nantinya akan dipersembahkan sebagai "Pusat Pelatihan Manasik Haji dan Umrah Nasional". Rencana ini sudah mendapat restu dari Pemerintah dengan ground breaking akan dilaksanakan pada Agustus 2021. Budi Prakoso juga telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (Hak Paten) dari Kemenkuham. Hak Kekayaan Intelektual (Hak Paten) dari Kemenkuham atas Replika KabahHak Kekayaan Intelektual (Hak Paten) dari Kemenkuham atas Replika Kabah

2 Responses to "Mengenal Sosok Budi Prakoso"